KOMISI Paus Internasional (<em>International Whaling Commission</em>) memperkirakan sebanyak 300.000 paus dan lumba-lumba mati setiap tahun. Kematian ini, antara lain, lantaran alat penangkapan ikan, jaring dan jangkar kapal. Selain itu, sampah laut yang dapat merenggut mamalia laut ini. Untuk membantu paus atau lumba-lumba yang terjerat jaring ikan, kini tengah dikembangkan peralatan <em>drone</em>. Pesawat tanpa awak ini sangat membantu untuk memantau dan menyelamatkan mamalia laut. Seperti ditulis Juliat Grable di <a href="https://www.sierraclub.org/sierra/free-whales-drones-alaska-rescue">Sierraclub.org</a>, kendaraan udara tak berawak (<em>Unmanned Aerial Vehicles, UAV</em>) ini adalah alat terbaru yang dapat membantu tim kerja paus. Karena peralatan ini kecil, ringan, dapat bermanuver dan relatif murah. Drone telah menjadi instrumen penting dalam menilai dan memonitor keberadaan mamalia laut. Namun, ada perbedaan menerbangkan drone di darat dan di atas kapal. Menerbangkan drone di atas kapal agak sedikit rumit karena kondisi lautan yang kadang bergelombang. Brian Taggart dan Matt Pickett dari <em>Oceans Unmanned</em> --lembaga konservasi kelautan nonprofit-- membuat inisiatif dengan memberikan pelatihan khusus kepada pilot yang sudah akrab dengan kendaraan udara tanpa awak, yang disebut <em>freeFLY</em>. Taggart dan Pickett memberikan kombinasi pelatihan kelas dan latihan praktis. Peserta berlatih menerbangkan <em>drone</em> dari kapal, berkomunikasi dengan kru dan bermanuver di atas paus.<!--nextpage--> Produsen <em>drone</em> Cina <em>DJI</em> telah menyumbangkan <em>drone Phantom 4</em> dan <em>Mavic</em> untuk program tersebut. Sementara <em>DARTdrones</em>, sebuah perusahaan instruksi UAV, telah menyediakan materi persiapan ujian online secara gratis. Untuk memenuhi syarat pelatihan <em>freeFLY</em>, peserta harus memiliki lisensi pilot jarak jauh dari <em>Federal Aviation Administration</em>. Taggart dan Pickett sama-sama pernah bekerja di NOAA (<em>National Oceanic and Atmospheric Administration</em>). Kini keduanya membentuk lembaga non profit khusus, dengan tujuan mendukung penelitian lingkungan dengan <em>drone</em>. Keduanya telah menciptakan <em>EcoDrone</em>, sebuah inisiatif memajukan penggunaan <em>drone</em> dengan mengadopsi praktik terbaik untuk membatasi gangguan terhadap satwa liar. Mereka juga telah membantu sebuah tim di <em>Oregon State University</em> mengeksplorasi manfaat <em>drone</em> dalam menemukan tempat beberapa biota laut. Mamalia laut, seperti paus, ada yang kurang toleran terhadap kehadiran manusia berulang-ulang dengan menggunakan perahu. Drone sangat berguna, karena mereka bisa mendekati satwa laut yang terjerat. "Idenya untuk meminimalkan reaksi antara perahu (kapal) dan paus," kata Pickett. Pickett optimis drone bisa menjadi alat penting untuk mengurangi bahaya yang dihadapi manusia dalam operasi penyelamatan mamalia laut.*<!--nextpage--> Sumber: <a href="http://sierraclub.org">sierraclub.org</a>
Komentar tentang post