2004, survei ikan raja laut sepanjang Teluk Manado hingga Amurang oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Univseritas Sam Ratulangi Manado.
2005, April, Mei dan Juni. Dr Yoshitaki Abe dari Forrest Young’s Dynasty Marine Associates, merekam bawah laut di Manado dengan menggunakan Remotely Operated Vehicle (ROV) bersama Aquamarine Fukushima (Jepang) dan ilmuwan Mark Erdmann. Dalam pengamatan ini ikan coelacanth tidak terekam.
2006, Mei dan Juni. Survei biologi ikan raja laut dirancang peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Aquamarine Fukushima dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi untuk mengetahui distribusi dari raja laut di perairan Sulawesi. Riset menggunakan ROV berhasil merekam keberadaan ikan raja laut di Buol, Sulawesi Tengah, — 350 kilo meter arah barat Manado.
Pada 30 Mei, di perairan Buol terekam di kedalaman 165 meter sebanyak satu individu. Tanggal 31 Mei, terekam 2 individu di kedalaman 165 meter dan satu individu di kedalaman 183 meter. Pada 4 Juni terekam tiga ikan raja laut di kedalaman 153 sampai 156 meter. Masih di perairan Buol, pada 12, 14 dan 15 Desember terekam masing-masing satu individu.
2007, ikan raja laut ditemukan Justinus Lahama dan anaknya Delfi Lahama di Teluk Manado 19 Mei. Coelacanth ini ditangkap dengan menggunakan pancing di antara perairan Bahu dan Malalayang. Hanya 17 jam ikan raja laut ini bertahan hidup. Menurut Prof Dr Ir Alex Kawilarang Warouw Masengi, ikan raja laut telah dibedah dan terdapat 25 telur di dalam tubuh ikan ini.





Komentar tentang post