
Saat gempa, ketika azan magrib berkumandang, jembatan kuning ambruk.
“Saya lari karena jembatan ambruk, bukan tsunami,” kata Supriadi.
Menurut Supriadi, jembatan kuning lebih dulu ambruk ketika terjadi guncangan gempa.
Supriadi lari bergegas menuju sepeda motornya yang sedang parkir. Sepeda motor ini dihidupkan dan bisa jalan.
Hanya saja, jalanan yang dilalui amblas. Supriadi meninggalkan sepeda motor itu.
Dalam beberapa menit, tsunami menerjang jembatan kuning dan pesisir Teluk Palu, termasuk di lokasi Supriadi berada. Supriadi berlari melalui lorong (jalan) kecil.
“Saya lagi di Lere, saya ada di sana. Jembatan roboh bukan gara-gara tsunami,” ujar Supriadi, pegawai di Universitas Tadulako.
Jembatan kuning lebih dulu roboh, setelah itu, tsunami menerjang. Peristiwa ini berlangsung cepat, hanya dalam hitungan menit.
Rangka jembatan kuning yang roboh menunjukkan seperti meliuk-liuk (mleyat-meyot). “Terlihat jembatan ini seperti terpelintir, mungkin itu sebelum kena tsunami,” kata Dr Ing Widodo Setiyo Pranowo, peneliti Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Terdapat tarikan yang berlawanan pada jembatan tersebut pada sisi yang berbeda. Tarikan yang berlawanan ini menyebakan jembatan tersebut ambruk. Setelah jembatan roboh, datang tsunami.*





Komentar tentang post