Untuk bangunan yang sudah ada dan dihuni, perlu dicek kesehatan dan kekuatan strukturnya. Bahkan Pemerintah Daerah perlu melakukan audit struktur bangunan dan infrastruktur di daerah rawan gempa. Apabila dinilai membahayakan, perlu diterapkan rekayasa teknis untuk penguatan struktur bangunan.
Upaya sosialisasi melalui pendidikan formal dan non formal juga perlu terus dilakukan. Seperti yang ada dalam kurikulum kemaritiman yang diimplementasikan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Deputi Koordinasi Sumberdaya Manusia (SDM), Iptek dan Budaya Maritim Kemenko Kemaritiman, Safri Burhanuddin mengatakan, kurikulum kemaritiman yang telah diterapkan di sejumlah sekolah tidak kaku. Kurikulum ini bukan hanya menyangkut bagaimana menanamkan budaya maritim. Di dalam kurikulum ini mengajarkan tanggap bencana sejak dini.
Di masa lalu, gempa telah menjadi bagian kehidupan orang-orang di Kepulauan Nusantara. Seperti dalam menghitung usia seseorang. Usia tidak dihitung dengan menggunakan kalender.
Usia seseorang dihitung berdasarkan guncangan gempa yang kuat. Ini antara lain yang dicatat Naturalis Inggris Alfred Russel Wallace. Wallace mengelilingi Kepulauan Nusantara antara 1854 – 1862.





Komentar tentang post