Melihat data tersebut tampak bahwa upaya pertolongan sendiri (self assistance) menempati jumlah tertinggi. Ini cerminan bahwa masyarakat yang paham mitigasi akan memiliki peluang lebih besar selamat dari bencana.
Untuk itu, kegiatan sosialisasi gempabumi dan gladi evakuasi harus digalakkan secara rutin dan terus-menerus, baik di sekolah, perguruan tinggi, perkantoran, rumah sakit, hotel, dan di gedung-gedung publik di tengah-tengah masyarakat.
Hal ini akan dapat menjadikan seluruh masyarakat kita lebih paham dan lebih siap dalam menghadapi bencana, serta lebih terampil dan cekatan dalam melindungi ataupun menyelamatkan dirinya saat terjadi gempa.
Kesiapan menghadapi bencana telah terbukti di Jepang dapat memperkecil risiko jumlah korban dan kerugian. Upaya mitigasi gempabumi harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan komprehensif dengan melibatkan kerja sama multi-lintas disipliner, multi-lintas sektor, dan peran serta seluruh lapisan masyarakat, baik saat pra-bencana, saat terjadi bencana, dan pasca-bencana.
Karena itu, perlu dilakukan langkah-langkah kongkrit dan terkoordinasi di dalam suatu “Sistem Mitigasi Bencana Gempabumi yang berkelanjutan” yang telah terbangun dengan Koordinasi BNPB. Demi menjaga keselamatan warga masyarakat di daerah rawan gempabumi, dengan melibatkan sinergi berbagai pihak, terutama BPBD/Pemerintah Daerah, Kementerian PUPR, Kementerian Perhubungan, BMKG, BIG, LIPI, KKP, LAPAN, BPPT, Basarnas, Kementerian Ristek Dikti (ITB, UGM, UNAND, ITS, UNHAS), Kementerian ESDM, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian Kominfo dan berbagai Kementerian/Lembaga Pemerintah dan Non Pemerintah yang terkait dan yang terpenting adalah partisipasi warga masyarakat.





Komentar tentang post