Perbedaan fenotip yang ditemukan, kemungkinan diakibatkan pengaruh topografi dan kualitas lingkungan perairan laut. Hiu berjalan halmahera yang ditemukan Jutan et al. (2018) di Teluk Kao, diduga telah terpengaruh kondisi perairan yang tercemari sianida dan merkuri (Hg).
Laporan Edward (2008) menunjukkan bahwa Teluk Kao telah terakumulasi kadar merkuri di air laut dan sedimen. Pencemaran merkuri dan sianida dapat memberikan efek terhadap tampilan fenotip biota laut. Edward (2017) mengatakan bahwa ikan yang terpapar senyawa beracun namun tidak mati, organ tubuhnya dapat mengalami kerusakan jaringan.
Perbandingan perbedaan fenotip famili Hemiscyllium juga ditemukan Allen et al. (2016) pada jenis hiu karpet berbintik (H. freycineti) di daerah Pulau Kri Raja Empat yang memiliki bintik berwarna coklat muda dengan warna kulit putih dan terdistribusi secara acak pada bagian tubuh.
Pola totol jenis hiu karpet berbintik yakni hanya ditemukan beberapa jenis totol berukuran besar pada bagian punggung hingga ekor, namun lebih mendominasi totol ukuran kecil. Perbedaan fenotip dimungkinkan akibat perbedaan letak geografis, topografi, dan lingkungan habitat laut Pulau Kri dan lokasi sampling.
Deskripsi fenotip famili Hemiscyllium memiliki ciri yang berbeda setiap individu pada ukuran dan bentuk bintik. Perbedaan ini diduga akibat perbedaan proses isolasi, pengaruh tipo-logi lingkungan pantai, ekologi regional setiap wilayah, rintangan (barrier), dan faktor genetik.





Komentar tentang post