Selang beberapa waktu lamanya, tibalah saatnya Saidina Ali Muhammad (Saverigadi) akan dipanggil oleh Tuhan Yang Maha esa.
Karena Saverigadi mempunyai kehebatan yang luar biasa, kuda dan anjingnya selalu siap untuk menemaninya.
Setelah Saverigadi meninggal, kudanya langsung membawanya terbang, namun tanah mengejarnya. Tanah yang paling lama mengejar, di situlah kelak menjadi tanah yang tertinggi di dunia (gunung).
Sementara, anjingnya bertugas menggonggongi (menyalak berulang-ulang) air laut yang mengejar Saverigadi, sehingga terciptalah teluk dan tanjung-tanjung di dunia.*
Sumber: Sawerigading Versi Sulawesi Tengah, ditulis Hasan Basri dan Baso Siojang. Tulisan ini dalam buku: La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia. Pusat Studi La Galigo, Juni 2003.





Komentar tentang post