Pembuatan peta bahaya tsunami untuk beberapa kota di Indonesia seperti Padang, Denpasar, Cilacap, dan Jembrana juga telah disusun (Realino, 2006; Khomarudin et al., 2010), bahkan untuk Padang sudah lebih mendetil hingga kepada peta evakuasi (Taubenboeck et al.,2009; Schlurmann, 2010).
Latihan evakuasi dari bahaya tsunami (tsunami drill) juga telah dilakukan di beberapa lokasi rawan gempa dan tsunami seperti di Banten (Pariatmono, 2007), Padang (Zein, 2007) dan Denpasar (Leman, 2007).
Indonesia, negara kepulauan besar yang terletak di pertemuan tiga lempeng teraktif (Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik). Dalam kurun waktu dua dekade terakhir, mempunyai banyak tantangan terkait dengan gempa dan tsunami.
Hampir 70 persen wilayah Indonesia rawan tsunami. Episenter gempa di laut yang berpotensi sebagai pembangkit tsunami berjarak sangat dekat dengan garis pantai (near-field tsunami). Karena itu, hanya diperlukan waktu 15-20 menit tsunami tiba di pantai (Irsyam et al., 2009; TRG-ITB, 2010; Lauterjung et al., 2010).
Hal ini adalah tantangan sangat besar. Dalam waktu yang sangat singkat, harus bisa mengevakuasi ribuan/jutaan massa (penduduk) ke daerah yang lebih aman.
Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau. Masih banyak pulau/kepulauan yang berpenduduk terisolir, sehingga belum merata jangkauan diseminasi informasi/pengetahuan tentang gempa dan tsunami. Selain itu, minim jaringan listrik.





Komentar tentang post