
Ketika Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi kembali berubah nama menjadi Pusat Penelitian Oseanografi, Suharsono memimpin lembaga ini mulai 2005 hingga 2011.
Saat ini, di usia 64 tahun, Suharsono masih tekun meneliti, menulis dan menghadiri kegiatan yang terkait dengan terumbu karang. Selain itu, aktif di Indonesian Scientific Authority untuk Biota Laut dan Animal Committee CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).
Sejumlah karya ilmiah telah dipublikasikan dalam bentuk jurnal maupun buku. Sebagai peneliti senior di LIPI, Suharsono aktif memberikan saran dan masukan untuk pemeliharaan, perawatan, serta aktivitas yang merusak terumbu karang, seperti pengeboman ikan, tabrakan kapal dan kegiatan merusak lainnya.
Kerusakan terumbu karang telah berdampak buruk pada usaha perikanan, wisata bawah laut dan upaya pelestarian lingkungan yang sedang berjalan.
Upaya mempertahankan terumbu karang yang berstatus sangat baik dan baik, serta memulihkan kembali kondisi yang rusak, antara lain, dilakukan bersama KLHK. Seperti kehadiran Suharsono di Gorontalo.
Belajar dari spirit Prof Suharsono, peran terumbu karang ini penting bagi usaha perikanan, peningkatan perekonomian masyarakat, wisata bawah laut dan jasa kelautan lainnya.





Komentar tentang post