Padahal, jika ditelusuri jejak historis Gorontalo, ada banyak kisah kepemimpinan perempuan yang suksesnya sama dengan laki-laki seperti Mbui Bungale, Mbui Ayudugya, Mbui Maimunah, Mbui Bulaida’a, Mbui Molye, Mbui Pohele’o dan sebagainya.
Nah ketiga perempuan di atas mesti menjadi cermin untuk kisah kepemimpinan perempuan Gorontalo hari ini, sebab jika keliru dan bahkan gagal dalam mengelola daerah, resikonya akan sangat besar. Bukan saja perempuan Gorontalo akan kehilangan semangat memasuki ruang publik, tapi kesempatan perempuan untuk diberi amanah jabatan publik akan hilang dengan sendirinya.
Kita banyak mendengar nama-nama perempuan yang kini mulai digaungkan untuk mengelola urusan publik seperti Idah Syaidah, Lolly dan Lolla Yunus Merlan Uloli sendiri, Forry Nawai, Rahmiyati Yahya, Dewi Hemeto dan banyak nama lainnya yang diyakini pendukungnya untuk menjadi pemimpin daerah.
Mereka di atas adalah yang akan bertarung pada gelombang Pilkada 2024 nanti, dan tentunya upaya yang harus dilakukan salah satunya mengikis memori kolektif tentang kepemimpinan perempuan.
Termasuk tidak lagi terjebak pada isu elektoral bahwa pemilih perempuan lebih dari 50 %, sebab banyak juga pemilih perempuan yang tidak percaya pada perempuan bisa memimpin daerah.




