Walaupun kategorinya sudah “pragmatis”, tapi itu fakta kontestasi politik pada ranah lokal.
Jika popularitas anda dibawah, apalagi ketersukaan rendah, gagasan anda “taap”, jaringan anda cuma hanya dalam satu marga “baku kanal” itu pun cuma karena “dorang hitung” keluarga. Maka, “resources” untuk cost harus anda siapkan. Butuh energi maksimal dalam 2000 jam dalam meningkatkan itu.
Waktu 2000-an jam itu sangat tipis. Dan saya yakin, tidak semua Caleg punya hitungan detail soal jumlah pemilih, nama, alamat, keyakinan pemilih tersebut sudah berapa persen memilih anda, berapa banyak keluarga atau teman yang bisa dia ajak, hingga bagaimana dia mentransfer gagasan anda pada lingkungannya.
Jangan sampai narasi yang didistribusi itu hanya sekedar “orang bae dia”. Narasi “orang bae” apalagi “kancang te rajal” pasti membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Praktek “pragmatis” di masyarakat karena berasal dari konstruksi wacana “orang bae“, “kancang“, dll.
Oleh karena itu, harus ada keseimbangan dalam agenda 2000 jam. Tidak boleh tunggal, apalagi cuma modal “kuti-kuti” pada saat serangan fajar.
Harus diingat, bukan cuma anda yang siap “bakuti-kuti“, yang lain juga. Karenanya, membangun narasi, personal branding harus hati-hati.
Membangun reputasi penting, tapi tidak sekedar anda membagikan “quote”, “kata-kata mutiara” yang entah anda copot dari mana, ditambah gambar anda sebagai pemanis, yang itu anda bagikan di whatsapp story, facebook, instagram story, dll, yang itu terus terang sangat membosankan.





Komentar tentang post