Sudah gagasan dan ide untuk membangun daerah tidak punya, pada konteks keseharian “tampa mo lari akan lo masyarakat kalo ada kebutuhan” juga tidak pernah mau melayani.
Pada pilkada Gorontalo kali ini, dari beberapa nama yang memiliki keinginan untuk ikut kontestasi, sebagian besar memiliki nilai minus, minus gagasan, minus ketokohan, minus kebaikan, namun hal tersebut tidak linier dengan satu hal: percaya diri over dosis.
Percaya diri yang dimiliki kandidat termasuk tim sukses bisa dibolehkan sepanjang hal tersebut terukur secara kuantitatif termasuk dalam rekaman sentimen opini publik secara digital. Sayangnya, sebagian besar daripada itu malah anti sesuatu yang ilmiah. Termasuk hanya bertumpu pada satu pola : basiram, kuti-kuti, serangan fajar.
Padahal instrumen tersebut bukan pilihan utama dan satu-satunya. Jika misalnya fenomena politik uang terjadi secara massif pada Pemilu, hal tersebut tidak bisa linier dan berbeda dengan konteks Pilkada yang menjadi arena kontestasi formulasi gagasan dan ide yang menjadi tumpuan masyarakat.
Pilkada hanya diikuti sedikit orang-orang yang telah terseleksi secara ketat dengan akumulasi nama besar dan nama baik yang positif. Bahwa “resoruces” dibutuhkan pada sebatas operasional dalam rangka menaikkan sentimen positif pemilih.




