Walaupun menurut data per tanggal 3 April 2020 provinsi yang masih “steril” dari Covid-19 adalah NTT dan Gorontalo, tak pelak industri pariwisata Labuan Bajo yang terletak di NTT terkena dampak ekonomi. Dampak menurunnya pendapatan pariwisata bahkan sudah dirasakan sejak pertengahan bulan Maret 2020.
Hotel dan restoran di wilayah Labuan Bajo dan sekitarnya terpaksa harus ditutup karena sepinya pengunjung. Bahkan Taman Nasional Komodo dinyatakan ditutup sejak tanggal 23 Maret-26 Mei dan ada kemungkinan diperpanjang bila situasi belum membaik.
Menurut data dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia Manggarai Barat, terdapat 111 restoran dan 102 hotel yang harus tutup dan otomatis berdampak pada 4.500 karyawan yang mencari rejeki di sektor ini.
Wilayah yang dikenal dengan wisata diving ini memang menggantungkan pemasukan daerah sebagian dari kegiatan wisata baik kunjungan dari wisatawan lokal maupun asing. Pemilik hotel,restoran, dan masyarakat di sekitar Labuan Bajo tentu berharap bahwa selain fokus kepada penanganan wabah ada program bantuan bagi masyarakat terdampak yang menggantungkan hidup dari sektor pariwisata.
Menurut salah satu pemilik restoran di Labuan Bajo, ada baiknya daripada memikirkan lockdown lebih baik ciptakan ketenangan di masyarakat dan fokus kepada edukasi mengenai kesehatan di masyarakat mengenai apa saja yang bisa mencegah penularan wabah. Sehingga sektor pariwisata dapat berjalan namun tetap memperhatikan faktor kesehatan dan keselamatan wisatawan serta penduduk sekitar.*





Komentar tentang post