Gempa di Palu-Donggala juga memunculkan fenomena tanah bergerak atau likuefaksi. Likuefaksi banyak terjadi pada tanah berpasir. Saat terjadi gempa tanah yang berpasir tercampur dengan air tanah di bawahnya. Melarut dengan air tanah dan menerobos rekahan tanah di permukaan.
Dari penelitian yang dilakukan sejak tahun 2005, menurut Subagyo, di daerah sepanjang Teluk Palu merupakan wilayah yang memiliki tanah dengan kontur yang mudah terjadi likuefaksi. Ketebalan sedimen tersebut mencapai 170 meter, sehingga menjadi daerah yang sebenarnya tidak aman untuk dijadikan tempat tinggal karena berpotensi terjadi likuefaksi saat terjadi gempa.
Gempa dan Tsunami Palu-Donggala terjadi pada Jumat (28/9) pukul 17.02.44 WIB. Gempa ini berkekuatan 7,4 skala Richter (SR). Lokasi berada di 0.20 Lintang Selatan dan 119.89 Bujur Timur, pada kedalaman 11 kilometer.*
Sumber: ugm.ac.id





Komentar tentang post